05 Maret 2009

Sutradara Chaerul Umam: Ada Bau Liberalisme di Film PBS

http://www.hidayatullah.com/
Thursday, 12 February 2009 18:46

Awas, ada propaganda paham liberal yang menyusup dalam dunia perfilman.
Demikian ujar sutradara Chaerul Umam mengomentari film Perempuan Berkalung
Sorban (PBS)
Hidayatullah.com--Film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) tak hanya menuai
Chaerul Umamkritik di kalangan ulama dan umat Islam. Tak urung, kalangan
sineas sendiri ikut-ikut gerah. Kritik datang langsung dari Chaerul Umam,
mengatakan. Fim PBS tidak hanya melecehkan Islam, namun juga mengandung
unsur propaganda politik.

"Film tersebut mengandung propaganda politik. Bagaimana tidak, dunia
pesantren dicitrakan sangat buruk. Dan secara tidak langsung, seluruh
pesantren memiliki kultur demikian," ungkap Chaerul kepada
www.hidayatullah.com.

Chaerul menyayangkan, banyak siaran talkshow sebagaimana acara debat yang
difasilitasi stasitun TV one baru-baru ini yang menghadirkan Hanung
Bramantyo sang sutradara.

Menurutnya, hal itu hanya akan memberikan kesempatan kepadanya untuk ber-
hujjah (berpendapat) dan bersilat lidah. Dengan demikian, dia dapat
menyakinkan masyarakat. Padahal, dalam dunia seni hal tersebut tidak boleh
dilakukan.

"Seharusnya yang membedah kontroversi itu adalah pihak lain, baik yang
kontra maupun yang pro. Namun bukan dari pihak Hanung sebab, itu setali
tiga uang. Celoteh nya pasti tidak cover both side," tuturnya.

Sebagai seorang sutradara senior, Chaerul mengetahui ketidakseimbangan (
unbalance) dalam film tersebut. Bagimana kisah buruk kiyai dan pesantren
yang di-blow up secara sepihak. Sedangkan pesantren dan kiyai yang bagus
tidak disentuh.

Chaerul tidak hanya setuju dengan keputusan MUI yang menyuruh agar film
tersebut ditarik dan direvisi, lebih keras lagi, Chaerul juga beranggapan
bahwa film tersebut sudah tidak layak lagi direvisi.

"Untuk apa film PBS ditarik dan direvisi, film tersebut dibuang saja,
tidak ada yang perlu direvisi,"tuturnya. Kecuali, jika Hanung mau
menampilkan realitas pesantren secara jujur dan equal (setara), maka film
tersebut bisa direvisi. "Itupun sangat banyak sebab, terlalu banyak
kesalahan," imbuhnya.

Menurutnya, banyak adegan yang cukup menyulut kemarahan masyarakat dalam
film tersebut. Dalam film itu banyak adegan yang jahili. Bahkan mengadopsi
gaya-gaya Kristiani. Seperti, Annisa tokoh utama (PBS) yang mengajak
Khudori bekas pacarnya untuk berzina di kandang kuda. Belum sempat
kejadian itu terlaksana karena Khudori menolak sudah keburu ketangkap
basah. Kemudian ditangkap dan disuruh dirajam. Hanya dengan bukti jilbab
yang dicopot rajam pun dilakukan.

"Di adegan ini, secara fiqhiyah saja sudah salah. Namun, rajam tetap
dilakukan," tutur Chaerul. Tidak hanya itu, ibu Annisa
menghalang-halangi. Dia membolehkan, asal si pelempar bersih tidak
memiliki dosa. Bukankah ini cerita Kristen seperti Makdalena yang yang mau
dirajam. Tiba-tiba datang Yesus yang kemudian membolehkan rajam asal si
perajam tidak berdosa?.

Dari bukti-bukti inilah, menurut Chaerul, sebenarnya film PBS termasuk
dalam pelecehan agama. Dan bisa dibawa ke pengadilan dengan dalih
penistaan agama.

Menurutnya, dalam hal ini, MUI harus menjadi mediator ke pengadilan.
Sebab, jika pencegahan tersebut tidak cepat dilakukan, maka ditakutkan
respon masyarakat akan bergerak.

Selain pembuat film, menurut Chaerul, yang paling bertanggung jawab adalah
LSF. Sebab, lembaga ini telah meloloskan PBS.

Propaganda paham Liberal

Ketika ditanya bagaimana caranya agar insan perfileman tetap kreatif tanpa
harus tergelincir masalah sensitif, seperti masalah SARA. Menurutnya,
sebenarnya, hal itu tidak akan terjadi jika para sineas jujur dalam
membuat film tanpa ada propaganda terselubung. Dan hal itu tidak akan
mematikan insan film dalam berkreasi. Menurut Chaerul, tolok ukurnya cukup
sederhana, yakni bisa mengangkat masalah apa saja asal solusinya baik.

"Yang jelas, adegan dan solusinya Islami. Jangan adegannya islami namun
solusi jahili, kemudian dikatakan film religi, " jelasnya.

Seperti adegan perzinahan dan kemesraan diadegankan secara vulgar. Padahal
hal tersebut sangat berbahaya.

"Masalah sentuhan saja sudah dipermasalahkan dalam masyarakat, apalagi
pemerkosaan," katanya. Secara sepintas ia menilai, Hanung sengaja ingin
meniru-niru Barat dalam membuat film.
Padahal masyarakar sekuler beda dengan Indonesia yang agamis. "Di Barat,
agama adalah agama, sedangkan film adalah film," tegas Chaerul.

Chaerul beranggapan bahwa virus liberalisme, terutama dalam hal bisnis
yang menghalalkan segala cara telah memasuki dunia perfilman nasional
sekarang ini. Untuk mendapat banyak simpati dan untung tinggi, mereka
melakukan beragam cara. Salah satunya liberalisasi film.

Chaerul Umam menyarankan, agar pembuat film harus membawa penasihat.
Setidaknya, sebelum proses dan ketika proses ataupun hasilnya harus
dikonsultasikan dengan penasihat ahli.

Sebagaimana diketahui, Chaerul Umam mulai dicatat sebagai sutradara yang
baik lewat film "Al Kautsar", tahun 1977, produksi PT Sippang Jaya Film,
dan "Titian Serambut Dibelah Tujuh". [ans/hidayatullah.com]
Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 comments: on "Sutradara Chaerul Umam: Ada Bau Liberalisme di Film PBS"

Posting Komentar